Friday, July 22, 2011

Celoteh Si Kecil ~ Saling memberi dan mengisi

Sore itu si kecil marah-marah, teriak-teriak di halaman rumah. Setelah beberapa lama dirinya kemudian masuk kerumah, sambil mengambil mainan diapun asyik bermain. Tak beberapa lama sang adik yang mungkin terganggu teriakan Si Kecil, terbangun dari tidurnya. Diapun akhirnya berusaha bermain dengan sang kakak. Namun sang kakak tidak mau minjamkan mainanannya, sehingga yang ada tarik menarik diantara mereka berdua. Saat bertengkarpun dimulai, masing-masing tidak ada yang mau mengalah. Hingga akhirnya si kecil pun lari kepelukan sang bapak, sambil mengatakan kalau dirinya tidak mau lagi berteman dan bermain dengan temannya tadi dan adiknya. Begitu pula dengan sang adik, berlari dan memeluk sang ibu.

Setelah beberapa saat akhirnya si kecil dan adiknya saling bersalaman, saling meminta maaf  dengan saling memberikan kecupan saying antara mereka berdua. Seperti biasanya untuk mendinginkan suasana, sang bapakpun memulai sebuah cerita dongeng buat mereka berdua.

Di suatu masa terdapat Negeri Barang, berbagai macam kelompok barang yang saling terpisah. Masing-masing kelompok terdiri dari satu jenis barang, misalnya kelompok pensil, kelompok penghapus, kertas, penggaris, rautan dan masih banyak kelompok lainnya. Tidak ada yang mau hidup membaur karena masing-masing merasa sebagai barang yang paling berguna. Kebiasaan ini terjaga secara turun-temurun. Hingga akhirnya hal itu dianggap sebagai kebenaran.

Seiring dengan berjalannya waktu dan generasi  yang terus berganti. Muncullah beberapa segelintir barang di masing masing kelompok barang yang mulai bertanya “mengapa hanya ada satu jenis barang disini, mengapa tidak ada barang lain disini?”. Rasa penasaran, keingintahuan yang begitu besar membuat mereka meninggalkan kelompoknya untuk melakukan perjalanan pencarian jawaban atas pertanyaan yang selama ini muncul.

Hingga akhirnya tanpa disangka bertemulah berbagai jenis barang dari masing-masing kelompok yang melakukan perjalanan tadi di sebuah tempat. Berkumpul disitu pensil, penghapus, kertas, penggaris, rautan pensil. Mula mula mereka saling memperhatikan satu dengan yang lainnya, Sedikit demi sedikit rasa ego yang tertanam di diri masing-masing mulai luntur. Rasa saling memberi dan melengkapi mulai muncul. Rautan dengan tulus melakukan tugas dan kewajibannya dengan meraut pensil. Sang pensil juga dengan rajin memberikan tulisan dan gambar di kertas. Tak jarang penghapus tak pernah bosan mennghapus coretan atau gambar yang kurang pas. Dikala sang pencil membutuhkan bantuan untuk membuat garis-garis lurus , sang sahabat penggaris selalu siap membantunya. Demikian juga dengan sang kertas dengan tulusnya menyediakan dirinya untuk digunakan sebagai media demi sebuah tulisan atau lukisan. Begitu padu dan harmonisnya hubungan yang terbangun sehingga membentuk sebuah komunitas yang bagi sebagian kelompok lama sebagai sebuah komunitas baru. Rasa saling menyayangi, saling membantu, saling membutuhkan tercermin dalam setiap gerak langkah yang ada. Tanpa mereka sadari, buah dari tindakan yang selama ini mereka lakukan lambat laun sekat-sekat penghalang yang selama ini terbangun mulai runtuh. Sebuah pelita kecil perlahan menyalakan roda kehidupan di sebuah Negeri Barang.

Sebuah cerita pengantar tidur dari sang bapak, hingga tanpa disadarinya membuat si kecil dan sang adik tertidur .

Monday, July 18, 2011

Celoteh Si Kecil ~ Berkarya Dengan Cinta

Ada saatnya seseorang merasa CINTA hanya sebagai kata, ada saatnya dirinya benar-benar merasakan CINTA, ada saatnya dirinya sebagai bagian dari CINTA dan mewujudkannya dalam setiap KARYA sebagai bagian Percikan Cahaya Cinta NYA untuk melayani SESAMA.....
Mengisi waktu libur sekolah, si kecil dan adiknya bermain layang-layang dilapangan. Keduanya merasakan asyiknya menerbangkan layang-layang, apalagi saat itu angin yang berhembus cukup kencang. Sehingga bisa menerbangkannya setinggi-tingginya. Setelah dirasa cukup dan layang-layang diturunkan, mereka bersama sang bapak beristirahat dibawah pohon dipinggir sawah. Dibukanya bekal yang dibawa dari rumah, sambil makan dan minum sang bapak bercerita kepada si kecil dan adiknya.

Di suatu masa, ada tiga ekor ayam yang berteman dan bersahabat. Kemana-mana mereka selalu bertiga yakni ayam mutiara, ayam kalkun dan ayam cemani. Namun ada perbedaan yang membedakan diantara mereka bertiga. Ayam mutiara dengan bentuknya yang menarik didukung dengan bulu-bulunya yang cantik, selalu  berusaha untuk menonjolkan dirinya diantara semua teman dan hewan-hewan lainnya. Apa yang dilakukannya hanyalah untuk sebuah pujian, pengakuan bagi dirinya. Segala cara dilakukan demi sebuah kehormatan yang ingin dicapainya.


Ayam kalkun dengan badannya yang besar, terlihat kalem dan lembut. Dengan sabar dan telaten dia mengerjakan segala sesuatu. Selalu timbul keinginan untuk belajar karena dirinya menyadari segala kekurangan yang dimilikinya. Walaupun seringkali dia harus terjatuh namun dirinya akan berusaha bangkit kembali hingga dirinya menguasai apa yang sedang dia pelajari.


Lain lagi dengan sang ayam cemani. Dirinya diberikan anugerah bentuk yang gagah dan warna yang hitam kelam. Kegagahan yang seharusnya mampu membuat dirinya bangga, namun hal itu justru membuat dirinya malu. Merasa dirinya rendah dibandingkan dengan yang lainya. 


Hingga akhirnya karena suatu keadaan, mereka bertigapun akhirnya harus berpisah. Ayam mutiara pergi, dia tempuh perjalanan panjang. Disepanjang jalan yang dilaluinya senantiasa dirinya mengangung-agungkan kehebatan dan kesempurnaan dirinya. Segala kemampuan yang dimiliki digunakan untuk memperoleh 'pengakuan bahwa dirinya yang terhebat'. Ayam kalkun juga terpaksa harus pergi demi sebuah keinginan untuk terus belajar. Terus dicarinya guru dan ilmu-ilmu yang ingin dipelajarinya. Sementara sang ayam cemani masih saja menyalahkan semua keadaan yang didapatinya. Rasa iri, kecewa, kesal, marah muncul didirinya. Selalu itu saja yang dia jadikan alasan. Tanpa adanya suatu perbuatan yang dia lakukan, karena Sang Nasib lah yang bersalah kepadanya. Kenapa dirinya harus menjadi makhluk yang hina.

Setelah lama mereka berpisah, tibalah waktunya untuk berkumpul kembali. Pertama yang datang adalah Ayam Mutiara. Dicarinya sang sahabatnya ayam cemani. Dilihatnya sang sahabat sedang termenung. Berdua mereka bercerita tentang pengalamannya selama berpisah. Ayam mutiara menceritakan bagaimana dirinya selama ini telah keliru dalam menjalani hidupnya. Segala bentuk penghargaan, pujaan yang selama ini diinginkannya hanyalah semu belaka. Menjadi tiada berarti. Bahkan segalanya itu sekarang telah hilang, dan yang ada sekarang hanyalah  dirinya yang seakan malu untuk bertatap muka dengan teman dan semua makhluk yang ada. Demikian pula dengan sang ayam cemani. Dirinya menceritakan bagaimana dirinya dengan kepergian kedua temannya, merasakan kesepian. Perasaan merasa sebagai makhluk yang hina dan tak berguna semakin menguat. Bahkan terkadang timbul keinginan untuk mengakhiri hidup ini. Berdua mereka saling bercengkrama, hingga tidak menyadari bahwa ada sang pengintip yang telah mendengarkan semua perbincangan mereka berdua.

Sampai akhirnya sang pengintip yang tak lain sang ayam kalkun dengan raut muka penuh keceriaan menampakan diri dihadapan mereka berdua. Ayam mutiara dan ayam cemani menyambut kedatangan sahabatnya dengan pelukan mesra. Ditumpahkannya kegalauan, rasa kesal yang selama ini membebani mereka kepada sahabatnya. Ayam kalkun hanya tersenyum, sambil memberikan belaian dan tepukan hangat kepada mereka. Setelah beberapa saat,  ayam kalkun akhirnya menceritakan perjalanan yang selama ini dilakukannya.

Sebuah perjalanan demi memenuhi keinginannya yang haus untuk belajar. Mencari setiap ilmu dari orang-orang yang dia sebut guru. Semakin banyak belajar, semakin lama disadarinya bahwa dirinya bukanlah apa-apa dan ilmu yang selama ini dipelajari selama ini barulah sebagian dari semua ilmu pengetahuan yang ada. Diapun memutuskan untuk beristirahat, menghentikan segala pencarian yang selama ini dilakukan. Cukup lama dia merenung, hingga akhirnya dia mengerti bahwa segala ilmu pengetahuan yang selama ini dipelajari dan dikuasainya menjadi tidak berguna apabila dirinya tidak menggunakannya sebagai bekal dirinya untuk membantu sesamanya. Semenjak itu dirinya terus berusaha agar sesamanya setidaknya merasakan manfaat dari semua ilmu yang dipelajarinya. Sekecil apapun itu setidaknya dirinya berusaha berbuat yang terbaik bagi sesamanya. Walaupun terkadang muncul cerita-cerita miring dan pertentangan dari pihak-pihak yang merasa tersudut akan apa yang selama ini dilkannya, namun dia tidak marah ataupun membencinya. Secara perlahan didekatinya sambi tetap dilakukan semua karyanya bagi sesamanya. Melalui curahan pemikiran, ataupun tindakan fisik seperti memberikan senyuman dan sapaan hangat bagi sesamanya yang sedang merasakan kesedihan. Terkadang justru dari sesamanya dirinya menjadi banyak belajar, hingga akhirnya semakin menemukan makna hidup ini. Saling mengisi dan memberi dengan sesamanya.


Kedua sahabatnya menjadi semakin tersadar, keduanya seakan dibangkitkan dari tidur panjangnya. Sejak saat itupun akhirnya mereka bertiga terus berkarya bagi sesamanya. Sekecil apapun sebuah karya, akan terus mereka lakukan sebagai sebuah karya pelayanan bagi sesamanya. Sebagai sebuah percikan-percikan Cahaya Nya untuk menerangi sesamanya.



Monday, July 4, 2011

Celoteh Si Kecil ~ Bentuk atau Isi


Seperti pada umumnya, setiap ada perayaan hati ulang tahun selalu ada kado yang  selalu dinantikan dan diharapkan  untuk diterima. Tidak ketinggalan Si Kecil dan sang adik yang kebetulan sedang merayakan ulang tahun bersama. Mereka berdua dirayakan secara bersama mengingat hari lahirnya yang berdekatan. Keduanya menantikan saat yang dinantikan, ketika sang ayah dan ibunya memberikan  hadiah.

Tampak  dua buah  kado dengan ukuran dan bentuk dan warna yang berbeda. Kedua kado tersebut sama-sama menarik perhatian si kecil dan adiknya. Mereka berduapun akhirnya berebut memilih salah satu dari kedua kado tersebut. Tidak ada yang mau mengalah. Saling tarik diantara mereka berdua, hingga akhirnya yang ada suara tangis yang menandai saatnya bertengkar sudah dimulai.

Setelah si kecil terdiam dipangkuan ayahnya dan  sang adik dipelukan ibunya, diperlihatkannya isi dari kado yang  mereka perebutkan tadi.

“Ini ya yang kalian berdua perebutkan,” kata sang  bapak sambil membuka bungkusan kado yang mereka  perebutkan. Tampak  sebuah  baju ultraman kesukaan mereka berdua.

“Sekarang bapak buka ya kado yang satunya, yang tidak kalian pilih, “ lanjutnya sambil membuka kado yang lain. Ternyata kado yang kedua juga berisi baju ultraman dengan motif dan warna yang sama dengan kado sebelumnya. Hanya ukurannya saja yang membedakan. Satu sesuai dengan ukuran si kecil dan satunya sesuai dengan ukuran adiknya.

Kemudian mereka berdua memakai baju yang barusan mereka terima, dan dilanjutkan lagi acara saat bertengkar yang ditandai dengan aba-aba dari si kecil kepada adiknya. Berdua mereka memperlihatkan  jurus dan ilmu ultraman seperti yang mereka lihat. Sang bapak dan ibunya hanya tersenyum melihat tingkah polah mereka berdua.

Setelah  mereka berdua merasa kecapekan, akhirnya kedua duduk bersandar disamping sang bapak dan ibunya.

”Bagaimana sudah puas sekarang kalian bertengkarnya?  Kenapa tadi  harus berebut sebuah kotak kado, bukankah masih ada kotak lainnya? Apa karena bentuknya yang lebih bagus sehingga kalian harus berebut kotak yang kalian perebutkan? Bukankah bungkusan dan bentuk kado yang lebih bagus belum tentu menjamin isinya juga bagus? Sengaja bapak dan ibu mencoba membedakan bentuk kado tersebut hanya  ingin mengetahui reaksi dari kalian berdua. Kedua buah kado yang  isinya sama saja," kata sang bapak sambil menepuk-nepuk pundak si kecil dan adiknya.


"Coba sekarang lihat botol minuman yang ada di kulkas, beraneka bentuk botol sesuai dengan kesukaan kalian masing-masing. Lihat lagi dan rasakan, bukankah isinya sama saja. Hanyalah air putih semata. Perhatikan juga beraneka ragam bentuk balon yang tadi bapak tiup. Bermacam bentuk yang menarik namun isinyapun hanyalah sebuah udara yang sama. Jadi mengapa kalian seringkali lebih melihat dan memperebutkan bentuk yang ada tanpa melihat isinya. " lanjut sang bapak


Si Kecil dan adiknya hanya bisa tersenyum geli mendengar penjelasan sang bapak. Kemudian merekapun membantu sang ibu belajar membuat roti. Dari sebuah adonan yang sama, masing-masing membuat roti sesuai dengan cetakan dan kreasi masing-masing.


Bentuk dan Isi. Kedua hal yang saling berhubungan,.Bentuk seringkali menjadi belenggu  dalam  melihat sesuatu yang terkandung didalamnya. Keindahan dan kesempurnaan suatu bentuk menjadi hal utama. Bahkan tak jarang "bentuk" mampu menimbulkan permasalahan. Sebagian merasa sebagai bagian dari bentuk yang terbaik, terluhur dan paling agung. Dan terkadang berusaha memaksakan agar timbul kesegaraman bentuk. Keindahan keberagaman terlupakan. Sebuah kemasan atau bentuk yang membuat terlena, melupakan "ISI" yang terkandung didalamnya. Melihat dari sebuah bentuk tanpa adanya keinginan untuk mengetahui makna yang terkandung dari setiap perbuatan, acara ataupun tindakan yang seharusnya dilakukan. Sehingga segala macam 'bentuk' menjadi kehilangan makna. Sebuah kebiasan saja.


"Hanyalah sebuah catatan perjalanan sambil merangkai puzzle-puzzle kisah kehidupan menjadi penuh makna."

Friday, June 24, 2011

Celoteh Si Kecil~Puaskah dengan menghafal

Seperti biasa sebelum melihat film Mickey Mouse kesukaannya, Si Kecil belajar mengulang kembali pelajaran yang telah diterimanya di sekolah. Ditemani sang adik yang tak jarang justru mengganggu Si Kecil dalam belajar. Asyik dia dengan pelajaran membaca,terkadang ucapan yang keluar ditirukan oleh sang adik yang sedang belajar bicara. Ditemani pula oleh sang ibu yang senantiasa menemani keduanya, sementara sang bapak menemani pula sambil membaca sebuah buku.

Setelah beberapa lama, dan Si Kecil merasa kesulitan maka diapun bertanya kepada sang ibu," Bu, ini membacanya gimana ya. Aku tidak bisa membacanya."

"Bukankah kemarin kamu sudah belajar huruf, coba kamu perhatikan lagi tulisan ini. Kamu ingat lagi huruf yang ada di tulisan ini. Baca pelan-pelan rangkaian huruf yang membentuk tulisan ini," kata sang ibu kepada si kecil.

Si Kecil dengan terbata-bata membaca tulisan itu, dan kemudian diulanginya lagi hingga akhirnya diapun mampu membaca tulisan itu dengan lancar.

"Coba sekarang kamu coba baca tulisan ini," katasang ibu sambil menunjukkan tulisan lainnya di buku pelajaran si kecil.

Terdiam sebentar si kecil melihat tulisan itu, dengan terbata-bata dia membacanya. Namun ada beberapa bagian yang ternyata salah, dan walaupun diulang terus menerus tetap saja tidak bisa membacanya. Dengan sabarnya sang ibu kemudian menunjukkan bagian yang salah dan memberitahu bagaiman bunyi yang benar dari tulisan itu. Si kecilpun memperhatikan dengan sungguh-sungguh,diikuti dengan sang adik yang seakan mengerti apa yang dikatakan ibunya.

"Jadi begini le,  kalau belajar hendaknya dirimu jangan hanya menghafal saja.Kalau cuma hafalan saja, nanti kamu akan kesulitan dalam membaca tulisan yang lainnya. Pahami benar pelajaran tentang huruf yang telah kamu pelajari, sehingga nantinya dirimu tidak akan kesulitan dalam pelajaran membaca," kata yang ibu selanjutnya.

"Iya le, benar kata ibumu. Dahulu bapak ini juga kesulitan dalam mengikuti pelajaran fisika. Merasa takut dengan pelajaran itu. Namun secara perlahan dengan memahami pelajaran, rumus serta hukum fisika yang ada maka perlahan juga tidak kesulitan dalam mengikuti pelajaran. Dapat mengelesaikan soal-soal fisika yang ada, dan terkadang sekarang ini juga membantu pula dalam menyelesaikan permasalahan yang ada," kata sang bapak sambil mendekati si kecil dan adiknya.

"Coba kamu lihat adikmu itu, sama seperti dirimu di waktu seusia dia. Sekarang dia hanya bisa meminta susu, minta disuapin makan, tidur, ganti celana karena basah kena pipis. Begitu diulang-ulang, sambil sekarang dia belajar menirukan omongan yang didengarnya. Seperti sebuah hafalan saja, namun dia terus berkembang mempelajari dan memahami yang baru. Hendaknya dirimupun begitu pula, pelajari dan pahami yang diajarkan hingga akhirnya kamu bisa bukan karena kamu hafal namun karena dirimu memahami apa yang kamu pelajari." lanjut sang bapak kepada si kecil.

Si kecil hanya bisa manggut-manggut mendengar penjelasan sang bapak.

"Ayo sekarang rapikan peralatan yang ada, ajak adikmu membantu. Sebentar lagi saatnya melihat film kesukaan kalian. Setelah itu saatnya doa bersama dan tidur, agar besok tidak kesiangan bangunya," kata sang ibu yang diikuti oleh si kecil dan adiknya merapikan peralatan.

Akhirnya merekapun larut dalam tidurnya, ditemani suara binatang malam sebagai teman seperjalanan.

Terkadang dalam menjalani HIDUP
terjebak dalam sebuah rutinitas
sebuah kebiasaan
hingga akhirnya menjadikannya sebagai
SEBUAH HAFALAN
membelenggu dan membuat lupa
untuk belajar memaknai
dan memahami HIDUP
 

Tuesday, June 7, 2011

Celoteh Si Kecil ~ Bermain 'Game'

Sore itu seorang bapak sedang asik di depan komputer, tampak asyik memandangi layar. Seakan-akan terikat dengan sang layar hingga tanpa disadarinya si kecil dan adiknya mendekatinya. Seperti  biasanya selalu ada permintaan, celoteh dan tingkah laku dari mereka berdua. Melihat sang bapak yang dilihatnya asyik bermain, si kecilpun timbul keisengannya.

"Ayo dek, kamu serang bapak dari sisi sebelah. Aku akan serang dari sisi satunya, kita gunakan jurus-jurus Ultraman biar monsternya bisa kita kalahkan," kata si kecil kepada adiknya yang langsung menurut kata-kata kakaknya.

Keduanya langsung menyerang, hingga sang bapak terpaksa melayani permainan itu. Bertiga mereka 'bertarung' hingga akhirnya monster (sang bapak) menyerah kepada kedua Ultraman. Karena capek merekapun akhirnya tiduran sambil ngobrol .

"Gimana sudah puas  kalian main monster-monsteran tadi, kalau sudah sekarang bapak ceritain apa yang barusan dimainkan di komputer tadi. Mau tidak le? " tanya bapak kepada si kecil.

"Mau pak, cuma itu mainan apa kok sepertinya main bola. Kayaknya lebih asyik kalau main game ikan atau balap pak. Iya kan ya dek? jawab si kecil sambil bertanya kepada adiknya. Tentu saja sang adik hanya senyam-senyum dan menurut saja .

Kemudian sang bapakpun menceritakan dengan detil game tersebut. Dalam game tersebut sebenarnya mengajak untuk mencoba menjadi sebuah manager tim sepakbola. Tentu saja untuk itu harus mengenal lebih dalam tentang tim yang akan dipimpinnya yang didalammnya terdapat assistent manager, scout, phsyco, coatch, pemain disamping adanya prasarana seperti lapangan, tempat latihan, keuangan dan aturan klub serta sepakboala itu sendiri. Dengan mengetahui fungsi, tugas, kelebihan dan kekurangan yang ada dimasing-masing bagian akan memudahkan untuk menerapkan jenis latihan, strategi yang cocok untuk team. Bermacam strategi permaian dari 4-4-2, 4-5-1, 3-5-2 dsb memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan dengan mengetahuinya maka akan membantu dalam menghadapi lawan dalam permainan sepakbola. Dengan memahami team , strategi serta permaian sepakbola itu sendiri maka semakin menikmati indahnya sepakbola.

"Jadi begitu kira-kira yang bisa kalian pelajari dari sebuah gama ini. Ibarat game tadi, dirimu seharusnya juga bisa belajar lebih dalam tentang dirimu sendiri, segala kelebihan dan kekurangan yang ada. Kamu latih dengan belajar berbagai macam strategi, dikembangkan pola-pola baru yang akan semakin membuat dirimu berkembang. Jangan cepat putus asa dan merasa unggul. Namun  juga jangan terlalu ngoyo. Kamu nikmati keindahan hidup ini seperti keindahan permainan sepakbola tadi. Disamping mengembangkan dirimu, kamu lihat juga sekitarmu. Lihat dan pelajari. Bersama sekitarmu kamu akan bermain kehidupan bersama-sama." jelas sang bapak.

"Ayo le sekarang bersama kita belajar gama ikanmu, sehingga nantinya dirimu tidak hanya asal makan dan memakan. Namun akan memahami permainan dari sebuah game tadi dan ada sesuatu yang bisa kau ambil dari game ikanmu," lanjut sang bapak.

Mereka bertigapun akhirnya larut dalam sebuah game ikan, sambil menunggu kedatangan sang ibu yang sedang membeli minuman beras kencur dan kunyit asem .



Sebuah 'game' seringkali mampu membuat seseorang mampu larut dan hanyut kedalamnya namun sebenarnya dari sanalah mungkin banyak hal yang bisa dipelajari dari sebuah 'game' sederhana.



Tuesday, May 31, 2011

Celoteh Si Kecil ~ Belajar menulis dan membaca


Suatu ketika adik si kecil  sedang asyik membuat coretan-coretan dengan menggunakan spidol di  whiteboard . Saking asyiknya tidak diperhatikannya lagi sang kakak (Si Kecil) yang diam-diam mengamati tingkah adiknya. Coret-coret yang penuh warna, entah bentuk apa yang dibuatnya.

“Buat apa tho dik, dari tadi kok cuma corat-coret saja?” tanya si kecil kepada adiknya

“Buat 'mbil,” jawab sang adil singkat dengan vocal yang belum jelas, maklum baru belajar bicara.

“Hehehehe…….mosok  seperti ini mobil. Kalau mobil ya seperti ini.” Lanjut Si Kecil sambil dirinya membuat gambar mobil  yang sebenarnya juga belum bisa dikatakan sebuah mobil kalau diamati dengan benar-benar. Hanyalah sebuah kotak dengan roda yang menurutnya sudah merupakan  gambar mobil yang benar.

“Ayo sekarang kakak ajarin membuat huruf , kemudian dibaca ya, "kata si kecil sambil kemudian membuat huruf  A sd Z. Kemudian dibacanya dan ditirukan oleh adiknya.


Setelah selesai mereka berdua membacanya, sang ibu kemudian mengajari membuat rangkaian suku kata dari huruf-huruf itu. Membuat suatu kata sederhana. Bertiga mereka belajar, ditemani pula dengan sang bapak. Diperhatikannya mereka bertiga, dalam hatinya iapun berguman,"Sekarang si kecil sedang belajar mengenal huruf dan mencoba membuat suatu rangkaian suku kata (kata). Semoga kelak dia juga bisa mengenal dan memahami dirinya. Menerima dirinya secara utuh dan menyadari bahawa dirinya hanyalah sebagai salah satu huruf. Sebuah huruf yang membutuhkan huruf yang lain agar tercipta sebuah rangkaian hidup yang indah. Sebuah huruf yang mampu memberikan sesuatu yang berguna bagi huruf lainnya. Bersama-sama dengan huruf yang lain memberikan sesuatu yang berguna bagi sesamanya."

~Manungso iku iso rumongso ananging uga biso rumongso iso~ 

Monday, May 30, 2011

Celoteh Si Kecil ~ Ayo belajar 'memasak'

Dua orang kakak beradik sedang asyik bermain bersama, di teras rumah bermain mobil-mobilan. Berdua Si Kecil dan adiknya bermain, sambil bersenda gurau. Celoteh-celoteh anak kecil yang menjadi penyejuk dikala rasa penat terasa. Lama mereka bermain hingga akhirnya merekapun ribut dan adik si kecil akhirnya berlari masuk ke dalam rumah sambil menangis. Mencari ibunya untuk 'melaporkan' perbuatan kakaknya. Si kecilpun tak lama masuk menemui ibunya juga 'melaporkan' kenapa adiknya menangis. Si ibu hanya bisa tertawa mendengar keterangan mereka berdua. Setelah semua diam si ibu melanjutkan memasak untuk makan siang. Sedangkan Si kecil dan adiknya bermain dengan sang bapak.

 "Kenapa le, kamu tidak mau bermain masak-memasak dengan adikmu. Hingga akhirnya dia menangis?" tanya sang bapak kepada si kecil.

"Aku maunya main mobil-mobilan atau main robot. Aku ndak mau kalau main masak-masakan, itu kan mainan anak perempuan. Aku kan laki-laki." jawab si kecil.

"O jadi karena kamu merasa itu mainan anak perempuan jadi kamu tidak mau ya?" tanya sang bapak lagi.

"Lha iya pak, nanti kalau dilihat teman-temanku kan aku jadi malu, masak mainan anak perempuan." jawab si kecil.

"Lihat itu adikmu aja tidak malu bermain masak-masakan, jadi kenapa harus malu. Ayo sekarang kita bantu ibumu memotong sayuran yang akan dimasak. Ajak adik juga." kata sang bapak, kemudian mereka bertigapun berada di dapur membantu memotong sayuran yang akan dimasak dan melihat semua bahan masakan yang akhirnya dimasak oleh ibunya menjadi sebuah masakan.

Mereka berempatpun akhirnya makan siang bersama, dengan lahapnya si kecil dan adiknya menghabiskan makanan mereka. Dan setelah selesai makan sang bapak melanjutkan ceritanya.

"Tadi kamu malu bermain masak-masakan dengan  adikmu, sekarang bukankah dengan membantu ibumu memasak membuat dirimu mengetahui sayuran dan bumbu-bumbu yang dibutuhkan serta cara memasak hingga menjadi sebuah makanan yang enak. Seringkali kita ini malu dilihat orang dan sudah terkotak-kotakkan antara laki-laki dan perempuan. Hingga akhirnya laki-laki tidak boleh mengerjakan  pekerjaan perempuan, begitu juga sebaliknya. Bahkan tidak jarang timbuk pembedaan antara laki-laki dan perempun. Walaupun ada beberapa  hal yang memang tidak bisa digantikan antara laki-laki dan perempuan. Karena itu laki-laki dan perempuan sama saja, harus saling membantu satu dengan yang lainnya. Kemudian dengan belajar memasak kamu juga bisa belajar untuk membuat suatu masakan yang enak juga dipengaruhi sayuran, bumbu dan cara memasaknya. Dan untuk membuatnya juga harus dimasak. Demikian juga dirimu apabila diibaratkan sebuah masakan, maka dirimu ini harus kamu masak dengan sungguh-sungguh. Dengan ketekunan, kejujuran, kesabaran semoga kamu mampu memasak diri yang mampu memberikan makanan yang lesat bagi sesamamu melalui karya dan tindakanmu." kata sang bapak kepada si kecil sambil melirik ke istrinya yang hanya bisa tersenyum melihat raut muka si kecil dan adiknya.

Setelah kenyang, akhirnya si kecil dan adiknya tidur siang dengan ditemani sang bapak dan ibunya.