Showing posts with label Jejak Langkah Gagak Seto. Show all posts
Showing posts with label Jejak Langkah Gagak Seto. Show all posts

Monday, November 29, 2010

Jejak Langkah Gagak Seto ~ Ketika Ku Kecil

Ketika diriku masih kecil diriku dikenalkan dengan segenap indra yang melekat di raga ini, begitu hafalnya diriku akan nama dan fungsinya
Namun ternyata aku belum mengenal dan memahami sepenuhnya sebagai bagian dari hidupku

            Masih termenung Gagak Seto, merenungkan dan menemukan jawaban  atas pertanyaan yang timbul di dirinya. Setiap kali dirinya menemukan jawaban atas satu pertanyaan timbul pertanyaan lagi yang akhirnya dirinya tidak bisa menemukan jawabannya. Hingga akhirnya dia mencoba untuk membuang semua pertanyaan itu dan merebahkan dirinya. Menghabiskan waktu yang tersisa untuk beristirahat dan memulihkan tenaganya.
            Sang waktu seakan menyadari kegalauan hati Gagak Seto, terus bergerak hingga akhirnya tibalah saatnya mentari untuk meredupkan sinarnya digantikan cahaya bulan untuk menerangi gelapnya malam. Suara binatang malampun semakin menambah keheningan malam. Tampak disebuah beranda gubuk Gagak Seto dan Kakek Lowo Ireng sedang duduk bercengkrama. Seperti layaknya seorang cucu dan kekeknya, tampak kedekatan yang sudah lama terbangun dari sebuah hubungan yang muncul secara kebetulan.

“Bagaimana Seto cucuku, sepertinya kondisimu sudah lebih segar, lebih sehat ngger?” tanya sang kakek.

“Sudah Kek, berkat ramuan yang kakek berikan dan suasana yang ada membuat saya terasa nyaman. Badan terasa lebih segar. Namun tetap saja kek, hati dan pikiran iini masih ada yang membebani,” kata Gagak Seto, “rasanya diri masih tidak rela kehilangan sebelah tangan ini kek.”

“Walah begitu saja kok masih dipikirkan to ngger? Mbok ya sudah, ayo temenin kakek minum wedang uwoh  ini . Sambil makan ketela bakar nanti kita berbincang-bincang lagi,” kata sang kakek.

Dengan enaknya mereka meminum wedang uwoh dan ketela bakar yang ada. Dari minuman dan makanan yang sederhana, mampu memberikan kenikmatan yang terpancar di wajah-wajah mereka. Terlebih lagi di wajah sang kakek, wajah kepolosan , ketulusan dan kepasrahan pada Sang Ilahi terpancar di dirinya.

“Seto, kakek mau tanya memang selama ini apa yang telah kau perbuat dengan kedua tanganmu, hingga akhirnya dirimu merasa kehilangan, merasakan ketidakrelaan hingga membuatmu larut dalam kesedihan. Coba kamu jawab dengan jujur ngger,” tanya kakek Lowo Ireng

Lama terdiam Gagak Seto mendengar pertanyaan itu, sungguh pertanyaan yang tidak terpikirkan sebelumnya. Dirinya dibuat tertegun tak kuasa dirinya menjawabnya.  Sebuah pertanyaan sederhana yang terasa berat, hingga akhirnya dirinya berusaha menjawabnya.

“Terus terang kek, aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku selama ini yang terbiasa saja menggunakan kedua tangan ini untuk bekerja, membantu kakek Gagak Rimang bercocok tanam, bermain dengan teman-temanku. Banyak sekali yang telah kulakukan dengan tanganku ini. Aku terbiasa dengan kedua tanganku, sekarang hanya sebelah tangan ini yang bisa kugunakan. Maka aku merasakan kehilangan kek. Kiranya hanya itulah kek yang bisa kujawab atas pertanyaan itu, tak kuasa diriku ini untuk menjawab lebih dari itu,” jawab Gagak Seto.

Sang kakek tertawa terbahak-bahak, terlihat giginya yang sudah tidak utuh lagi, kemudian diapun berkata, “Memang benar apa yang barusan cucu katakan. Angger  terbiasa melakukan semuanya dengan menggunakan kedua tangan, maka begitu kehilangan salah satunya serasa begitu berat untuk melepasnya. Padahal masih ada tangan satunya yang bisa digunakan. Begitu rapuhnya diri ini, begitu kuatnya keterikatan akan apa yang sudah menjadi kebiasaan, terasa berat untuk melepaskannya. Seringkali seseorang merasakan kehilangan setelah apa yang selama ini menjadi miliknya hilang. Namun saat apa yang selama ini diakui sebagai miliknya ada, justru tidak disadari dengan benar keberadaannya. Menganggapnya sebagai sebuah kewajaran yang sudah seharusnya ada, hingga terasa aneh apabila tidak ada. Pernakah dirimu ini memperlakukan tanganmu sebagaimana mestinya, kau sadari keberadaannya . Kau rasakan bagaimana rasanya tangan ini menyentuh benda. Merasakan kenikmatan saat bergerak, menyentuh, meraba, memegang hingga saat melepaskannya. Merasakan saja, tidak lebih. Merasakan semua itu sebagai sebuah kenikmatan dan anugrahNya,” kata sang kekek 

Untuk sesaat Gagak Seto terdiam, mencoba mencerna kata-kata yang barusan didengarnya. Sementara sang kakek membolak-balik ketela diatas bara api, agar tidak gosong. Tersenyum sang kakek melihat raut muka Gagak Seto yang tampak sedang merenungkan sesuatu.

Seperti ketela yang dipanggang dengan menggunakan api yang kecil, pelan-pelan dibakar dan dibalik agar tidak hangus terbakar, agar dapat masak dengan sempurna dan memberikan kenikmatan saat dimakan. Perlahan-lahan Gagak Seto diajak untuk melihat, mengamati dan merenungkan dari hal-hal yang selama ini dianggap sepele, dianggap biasa hingga akhirnya dirinya semakin dapat menerima segala sesuatu seperti adanya. Tidak lebih dan tidak kurang. Mempersiapkan dirinya dalam menjalani laku , hingga dirinya dapat menjadi seorang yang disebut Manungso.

“Bagaimana ngger, tampaknya dirimu masih bingung dengan apa yang barusan kakek katakan. Pelan-pelan saja kamu rasakan apa yang barusan kukatakan. Tanganmu telah kau gunakan untuk bekerja, membantu orang, bahkan untuk  membunuh. Sadari bagaimana semua itu, gerakan itu sebagai kelanjutan akan apa yang ada dalam pikiranmu. Tanganmu bergerak tentu ada yang menyuruhnya bergerak, sadari semua itu. Buah-buah pikiran yang selalu muncul dalam dirimu. Disadari dan diamati agar dirimu selalu tersadar,” kata sang kakek sambil tersenyum.

“Mungkin kalau dirimu terlahir dengan sebelah tangan, dirimu tidak akan menanyakan dimanakah tanganku yang satunya dan dirimu tentu terbiasa dengan sebelah tanganmu. Kamu menerima ketidaksempurnaan yang kau miliki, mengapa sekarang harus kaupertanyakan lagi ketidaksempurnaan itu. Menerima semua itu sebagai suatu anugrah, karena bukankah selama ini kau rasakan sakit pada sebelah tanganmu sebelum lepas dari ragamu. Bahkan mungkin kakekmu Gagak Rimang sudah mengetahui penyakit yang tertanam di tanganmu, namun dirinya tak tega karena untuk menyembuhkannya harus kau relakan tanganmu itu. Hingga akhirnya gadis bercadar lembayung secara tidak sengaja memenggal tanganmu, bukankah itu sebuah anugerah. Dirimu terbebas dari penyakit yang kalau dibiarkan saja mau sang maut akan segera menjemputmu,” lanjutnya.

Gagak Seto masih belum bisa menerima penjelasan kakek Lowo Ireng, maka diapun bertanya, “ Kalaulah semua itu harus kuterima sebagai suatu anugerah kek, haruskah waktu itu aku menolong wanita yang waktu itu akan diperkosa? Bukankah kalau aku tidak menolong, aku tidak akan membunuh mereka dan dirikupun tidak akan kehilangan sebelah tanganku.”

“Seto, sekarang jawab pertanyaanku ini. Siapakah dirimu ini dan bagaimana kakekmu mengajarkan dalam hidup ini,” tanya sang kakek.

“Aku hanyalah seorang pemuda dusun, oleh kakek diajarin sedikit ilmu kanuragan untuk berjaga-jaga dan tentu saja untuk menolong sesama yang membutuhkan. Kakek Gagak Rimang mengajariku untuk menjadi seorang pendekar kek,” jawab Gagak Seto.

“Memang begitulah seharusnya, seperti yang kakekmu ajarkan dengan ilmu kanuragan yang diajarkan sebenarnya dirinya menginginkan dirimu menjadi seorang yang kuat secara lahir dan batin. Menjadi seorang pendekar yang memenuhi tugas dan kewajibannya untuk selalu membela yang benar, membela yang lemah dan tertindas, menegakkan keadilan. Jadi mengapa harus kau pertanyakan lagi, apa yang barusan kau pertanyakan. Bukankah menolong sesame sudah menjadi tugas dan kewajibanmu? Tak usah kau hasilnya dari tindakan yang harus kau lakukan. Janganlah terjebak akan hasil yang kaudapatkan akan sebuah tindakan. Lakukan saja apa yang menjadi tugas dan kewajibanmu dengan baik. Jagalah selalu dirimu, hati dan pikiranmu dari nafsu yang kan selalu meracunimu. Jangan biarkan nafsu mempengaruhi tindakan yang kau lakukan. Bertindaklah Seto, karena Gusti akan selalu menyertaimu,” kata sang kakek, “Pergilah tidur Seto, hari sudah larut malam. Kakek masih ingin berbincang-bincang dengan binatang malam.”

Gagak Seto pun menurut saja, diapun pamit dan memasuki gubuk untuk merebahkan dirinya. Menitpun berlalu ternyata dirinya belum bisa untuk memejamkan matanya, masih terngiang-ngiang di telinganya kata-kata Kakek Lowo Ireng. Direnungkan semuanya, dan memang benar adanya. Namun dirinya masih belum bisa menerima kenyataan yang ada. Lama dirinya terdiam, mata terasa belum bisa diajak tidur. Dibukanya jendela bilik kamarnya, terkejut dirinya melihat sang kekek sedang gelantungan di pohon dengan posisi terbalik kaki diatas dan kepala dibawah. Dalam hatinya diapaun bertanya, “Sedang apa kakek Lowo Ireng di sana? Apakah itu yang dinamakan topo ngalong?

Gagak Seto masih menangkap hal yang tersirat yang sedang ditunjukkan oleh sesorang yang sedang dilihat. Yang tampak dihadapan mata, seringkali menutupi sesuatu yang terkandung didalamnya.

Jejak Langkah Gagak Seto ~ Karena Cinta

Karena cinta diriku berada, karena cinta diriku bertindak, karena cinta diriku berkarya, dan karena CintaNya diriku kan kembali kepadaNya 
 
Ditengah kegelapan malam, sesosok bayangan terus berlari. Terus berlari menyibak rerimbunan pohon yang dilewatinya, tidaka dipedulikannya lagi luka dan darah yang terus menetes dari sekujur tubuhnya. Semakin lama semakin lemah dia berlari, hingga akhirnya hanya bisa berjalan dengan sempoyongan. Dan akhirnya diapun terkapar, terdiam terbungkus dengan dingin kabut yang menyelimutinya. Suara binatang malampun seakan dibungkam melihat keadaan dirinya, larut dalam kesedihan dan kepiluan seorang anak manusia.

Seseorang yang sedang terluka secara lahir dan batin biasanya akan merasakan kesedihan, kedukaan, kesusahan. Hingga tanpa disadarinya diapun larut dalam kesedihan dan kedukaan yang memang sudah siap untuk membelenggu, mengurung dan menguasainya. Merasakan semua itu sebagai beban akibat penderitaanya, sebagai bagian hidupnya, dan terus larut dalam  beban yang semakin memberatkannya, seringkali berusaha menyingkirkan beban itu namun dirinya tak kuasa dan mulai menyalahkan akan keadaan yang dialaminya. Menyalahkan diri sendiri. Merasa dirinya sudah tidak berguna lagi , merasakan dirinya sebagai sampah kehidupan yang sungguh tak pantas lagi berada di dunia ini. Seolah-olah seluruh makhluk mentertawakan apa yang sekarang ini dihadapinya. Sebuah proses penyangkalan dan pembenaran sesaat akan keadaan yang dialami. Tanpa disadarinya bahwa semuanya itu merupakan sebagai bagian dari hidup, teman dan sahabat dari hidup, sebagai bunga-bunga kehidupan yang sangat indah apabila mampu dinikmati dengan penuh rasa syukur

Ketika sang surya mulai mengusap dan menyelimuti semua makhluk dengan kehangatan dan kelembutan sinarnya, terbagunlah sosok itu. Masih  terlihat rasa sakitnya, sekujur tubuhnya diperhatikan dan akhirnya terhenti di bekas luka yang sudah ditaburi ramuan . Luka yang mengharuskan dirinya untuk merelakan sebelah tangannya. 

Terdiam, tersirat kesedihan sesaat hingga akhirnya dirinya terusik dengan bunyi langkah kaki seseorang kedalam gubuk  tempat dia berada. Sesosok kakek, dengan pakaian sederhana seperti yang dikenakan orang pedesaan yang selama ini dilihatnya. Tiada keanehan dari kakek tersebut, sebuah senyum disela-sela giginya yang tidak utuh lagi, diberikannya saat matanya menatap kakek itu. Sebuah tatapan mata yang mengingatkan dirinya akan kakeknya selama ini dia tinggalkan. Kakek yang selama ini merawat dan membimbingnya sejak di masih bayi.

“Sudah bangun ngger , ayo buat berbaring atau bersandar dulu. Tidak usah kau paksakan dirimu, dan tak usah kau pikirkan yang telah terjadi. Nikmatilah gubuk kakek ini, anggaplah semuanya seperti rumah sendiri” kata sang kakek, “Sini kakek bantu bersandar di amben ini.”

“Sebentar ya ngger tak ambilkan bubur yang sudah kakek siapkan, biar ada badanmu lebih segar. “ kata sang kakek  yang kemudian pergi ke dapur. 

Gagak Seto memandang sang kakek, sambil merasakan badannya  yang masih kesakitan. Terasa nyaman, suasana yang sudah lama tidak dirasakannya lagi semenjak dia meninggakkan kakeknya Gagak Rimang. Ada persamaan di keduanya, yang membuat dirinya merasa tidak canggung lagi terhadapnya.

Tak berapa lama, sang  kakek kembali membawakan bubur dan minuman hangat.  Gagak Seto dengan lahapnya menghabiskan semua yang ada. Sang kakek memperhatikan semua itu dengan tersenyum, teringat cucunya yang sedang pergi merantau. 

“Bagaimana ngger, sudah sedikit enakan sekarang?” Tanya sang kakek.

“Sudah kek, matur nuwun kek sudah menolong saya. Cuma dimanakah saya sekarang kek, apa yang terjadi dengan diriku kek?” sahut Gagak Seto.

“Justru itu ngger, kamu itu siapa dan bagaimana dirimu bias terluka seperti itu. Kakek hanya menemukan dirimu tergeletak di pinggir hutan, makanya kubawa ke gubuk ini. Kakek bersihkan lukamu, dan kuobati sedapat yang bias kakek lakukan. Coba kamu tenangkan dulu dirimu, kamu ingat-ingat kembali apa yang telah terjadi.” Kata kakek.

Terdiam dirinya, diingatnya kembali apa yang dialaminya. Pelan-pelan semakin jelas gambaran-gambaran kejadian yang telah dilaluinya, termasuk bagaimana dirinya mengharuskan kehilangan sebelah tangannya. Tebasan pedang dari seorang wanita bercadar lembayung masih terasa.

“Saya Gagak Seto kek, hanyalah sebuah pengembara yang sedang melakukan pencarian orangtua saya di Gunung Tugel. Ditengah perjalanan saya mendengar seorang perempuan desa berteriak minta tolong. Sayapun berlari menuju asal suara itu, sungguh sebuah pemandangan yang sangat menyedihkan melihat seorang perempuan sedang menjadi permainan sekelompok orang. Dengan enaknya mereka mempermainkannya, hingga akhirnya sayapun berusaha menyelamatkannya. Memang untuk sesaat saya berhasil kek, namun ternyata mereka sungguh licik. Disaat saya sedang bertarung , sebagian orang ternyata membunuh perempuan itu. Sayapun marah, hingga akhirnya saya habisi orang-orang itu. Sebagian besar tewas, namun ada beberapa yang melarikan diri,” kata Gagak Seto .

Sang kakek, mendengarkan dengan seksama cerita yang tersebut, sambil sesekali menganggukan kepalanya.

“Tanpa sadar sayapun larut dalam nafsu amarah, tinggal penyesalan melihat mayat yang bergelimpangan. Tak ada bedanya saya dengan mereka, hanya caranya saja yang berbeda. Kemudian sayapun melanjutkan perjalanan, namun tetap saja rasa penyesalan itu muncul. Tiba-tiba saya dikejutkan oleh sekelompok orang yang telah mengurung, dan merekapun langsung menyerang bersamaan. Mula-mula saya tidak mengenali, namun akhirnya sayapun mengenal bahwa ada beberapa orang yang merupakan kelompok yang telah saya hancurkan sebelumnya. Rasa marah perlahan mylai muncul, rasa tidak senang, rasa kesal saya lampiaskan di situ. Awalnya saya mulai bisa mendesak gerombolan itu, namun kemudian muncul sesosok perempuan menggunakan cadar berwarna lembayung. Dengan gesitnya dia menyerang, sungguh lincah sekali gerakannya. Mungkin kalau satu lawan satu , saya masih bias mengimbanginya. Namun karena dikeroyok bersamaan, maka perhatian saya menjadi terpecah. Terlebih saya sudah mulai terbawa nafsu amarah, sehingga kurang hati-hati dan ingin secepatnya menghancurkan mereka. Disuatu saat sayapun terlena, hingga akhirnya saya harus merelakan sebelah tangan saya ini Kek. Saya semakin membabi buta memeberikan perlawan, namun karena rasa sakit di lengan, maka dengan sangat terpaksa sayapun lari sekencang-kencangnya.” Kata Gagak Seto

“Sambil berlari, saya tumpahkan rasa kecewa, amarah, kesal, terdhadap apa saja yang menghalangi lariku. Merasa diri ini dihina, direndahkan hingga akhirnya sayapun tidak sadarkan diri. Dan setelah sadar, saya sudah berada disini Kek. Kiranya demikian cerita saya, maaf telah merepotkan kakek. Terima kasih juga atas pertolongannya, mungkin kalau tidak ada kakek diriku tidak seperti sekarang ini,” sekali lagi Gagak Seto menghaturkan hormat kepada yang kakek yang ada di hadapannya.

Sang Kakek masih saja tersenyum, sambil mengelus-elus janggutnya yang memutih. Terlihat sinar kedamaian, keteduhan yang terpancar dari wajahnya.

“Ngger cucuku, tak usah kau merasa sungkan. Semua yang kakek lakukan merupakan hal yang biasa. Bukankah hidup ini sudah sewajarnya saling tolong-menolong. Seperti juga dengan alam sekitar, akan selalu menolong asal kita sendiri mampu hidup selaras dengan alam sekitar. Semua yang kakek lakukan hanyalah sebagai wujud nyata dari karya-karya Dia yang selalu hadir, saat itu lewat raga kakek yang mulai rapuh ini Dia memberikan pertolongan kepadamu, mengobatimu hingga akhirnya sekarang kita bias berbincang-bincang. Karena CintaNya kakek ada, karena CintaNya kakek ada menolongmu dan sekarang ini bersamamu, karena CintaNya pula kakek kelak akan kembali, “ kata Sang kakek sambil tersenyum.“Sudah, istirahat lagi cucuku. Nanti malam kita lanjutkan lagi bincang-bincangnya. Anggap saja kakek ini kakekmu sendiri, sahabatku sendiri yang telah lama tidak bertemu. Kakek biasa disebut orang Lowo Ireng, maklum kakek yang terbiasa ditempat kegelapan hingga nama itupun diberikan orang. Kakek mau jalan-jalan dulu ke hutan, mengunjungi teman-teman yang pasti sudah menunggu.”

Ditatapnya kakek Lowo Ireng yang ternyata sahabat dari kakeknya, termenung dirinya merenungkan kata-kata yang barusan didengarnya.

Bagaimana mungkin diriku ini bersahabat dengan alam yang maha luas ini?
Bagaimana caranya agar diriku bisa hidup selaras dengan semesta?
Benarkah Dia selalu hadir dalam setiap hidupku, setiap karyaku?
Kalau selalu hadir kenapa diriku bisa membunuh sesamaku ?
Kenapa juga harus kurelakan tanganku ini hanya untuk menolong seorang manusia?